KUMPULAN PUISI
CAMAR YANG MERENUNG
Mungkin sesuatu telah terjadi dan akan terus berlanjut
Tapi lihat diangkasa...
Awan berarak ke utara
diam....tenang....dalam rengkuhan sang alam
Jauh dari lubuk hati terdalam ada suatu kiasan dari beribu makna
Sayang dalam kebisuan angkara ini
Aku termenung...
Diam...
Membisu...
Mematung tanpa ucap
Tutur yang terhenti
Mulut terkatup...
Akhir dari semua ini.
(Bilakah masih ada kasih)
Regards
AMBISI PUNCAK GUNUNG BATOK (BROMO)
Kubenarkan ranselku, terasa berat...
Nafaskupun sesak, pengap...
Katakan
Apakah ini pendakian yang tak berujung ?
Kulihat sekelilingku, hanya kabut dan kabut
Kuseka keringat dinginku...
Dimana air?
Aku haus...tolong berikan aku setetes air
Kumerangkak lagi...
Puncak tinggal beberapa meter
Kakiku letih, berat rasanya aku melangkah
Dalam dingin dan kaku...
Aku harus bertahan, aku harus kepuncak !
Kan kudapatkan bunga itu
Kumerangkak setapak demi setapak
Tapi hanya kabut dan kabut...
Aku tak boleh putus asa
Jantungku berdebar, nafasku memburu
Sampai akhirnya
Hamparan pasir yang tandus...
...dan bunga-bunga itu...
Aku berlari dan hilanglah letihku...
Aku sudah dapatkan bunga itu !
"Edelweys...kau dalam genggamanku..."
Tapi aku hanya termenung...
Aku hanya bisa menggenggamnya
Kupersembahkan untuk siapa bunga ini ??
(Kutunggu sang waktu...)
Regards
MEDITASI
Kudengar ada detakan jam dinding
Ada suara tokek
Ada suara musik, film yang penuh kepalsuan
Kulihat ada anak semut yang mencari-cari teman dan kebingungan...
Itukah Aku ?
